TERKINI
JMSI Kampar Gelar Rapat Konsolidasi, Segera Urus Legalitas OrganisasiJelang Rapat Konsolidasi, Plt Ketua JMSI Kampar Ungkap Respons Positif Bupati Ahmad Yuzar17 Pejabat Eselon lll dan IV Dilantik Wabup Kampar MishartiKPU Kampar Melakukan Memutakhirkan Daftar Pemilih BerkelanjutanProgres Fisik RLH 79 Unit Dinas Perkim Kampar Melampaui Target, Pencapaian Naik Signifikan 69 PersenHarga BBM Eceran Tembus Rp15 Ribu, GMNI Bengkalis Soroti Lemahnya Pengawasan Disperindag BengkalisKejar Target 100 Persen di Akhir Tahun, Dinas PUPR Kampar Fokus Percepatan dan Penyesuaian AnggaranDirektur Jenderal Pemasyarakatan RI Berikan Arahan, Jadi Penguat Kinerja Kanwil Ditjendpas RiauTim PBM LPPM Universitas Riau Akselerasi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Kelompok Tani Guyup RukunDinilai Gagal, GMNI Bengkalis Minta Bupati Evaluasi TAPD dan Ketua TAPD MundurNetty Mindrayani Siap Jalankan Amanah sebagai Plt. Ketua JMSI KamparPerkuat Sinergi, Kalapas Kelas IIA Pekanbaru Jalin Koordinasi dengan BNN dan Pengadilan Negeri

50 Warga Positif Corona OTG Jalani Isolasi Mandiri.

50 Warga Positif Corona OTG Jalani Isolasi Mandiri.

Juru Bicara Bidang Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Pekanbaru, dr Mulyadi mengatakan, terdapat sebanyak 50 warga positif corona yang kini menjalani isolasi secara mandiri di rumah tempat tinggal.

Puluhan warga positif OTG ini harus diisolasi mandiri lantaran biaya isolasi dan perawatan medis di rumah sakit tidak ditanggung pemerintah. Sejauh ini, pemerintah hanya membiayai pasien positif yang mengalami gejala Covid-19.

Nantinya, sebut Mulyadi, warga positif OTG tersebut akan diisolasi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru di Rumah Sehat yang dipersiapkan di Rumah Susun Sederhana dan Sewa (Rusunawa) Rejosari di Tenayan Raya.

"Sekarang tempatnya masih dipersiapkan," ujarnya, Selasa (11/8).

Jelang Rumah Sehat dioperasikan, bagi warga positif OTG yang memang tidak memiliki tempat yang cukup atau ruangan khusus di rumah tempat tinggal, mereka tetap bisa mengajukan isolasi dan perawatan medis di rumah sakit milik pemerintah.

"Jadi kalau ada masyarakat, rumahnya memiliki resiko tinggi menularkan kepada keluarga dan masyarakat lain, bisa dilakukan isolasi di rumah sakit pemerintah. Rumah Sakit Madani juga bisa," ucapnya.

"Itu kalau tidak memungkinkan (diisolasi di rumah). Karena ada faktor rumahnya sempit, atau faktor sosial, ada tekanan dari masyarakat yang takut tertular, jadi bisa diisolasi di rumah sakit pemerintah. Biayanya tidak ada," ulasnya.

Namun bagi warga positif yang memilih diisolasi di rumah tempat tinggal, mereka secara berkala diawasi oleh tenaga kesehatan di masing-masing pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat.

"Yang mengawasi dari puskesmas. Ada pemeriksaan secara berkala. Seperti kemarin di Rumbai, itu dokter yang ke tempat pasiennya. Kalau bergejala, langsung kita isolasi di rumah sakit," tutupnya.

Sumber: kmf