TERKINI
Penandatanganan Kerja Sama Pemkab dan Kejari, Perkuat Kepastian Hukum dan Tata Kelola PemerintahanWakili Wabup Kampar, Plt Kadisdikpora Letakkan Batu Pertama Pembangunan Asrama Ponpes Ibnu JarirWabup Kampar Bahas Rencana Jaringan Listrik Pasir Sialang, Pemerataan Penerangan Jadi PrioritasWakil Bupati Misharti Bidik Pasar Nasional, Olahan Ikan Patin dan Batik Kampar Didorong Naik KelasOperasi Patuh Lancang Kuning 2026, Satlantas Polres Kampar dan Samsat Bangkinang Gelar Ramp CheckDisdikpora Kampar Respons Kondisi Sekolah di Koto Kampar Hulu, Renovasi Dianggarkan 2027DPRD dan Pemkab Kampar Setujui 6 Ranperda, Ahmad Yuzar Tekankan Manfaat Nyata bagi MasyarakatDelapan Fraksi DPRD Kampar Sampaikan Pandangan, RAPBD 2027 Fokus Kebutuhan MasyarakatBupati Kampar Didampinggi Plt Disdikpora Temui Plt Gubernur Riau, Usulkan Pembangunan Lokal SD 017Perkuat Layanan Darurat, Bupati Kampar Serahkan Mobil Rescue untuk DamkarSekitar 38 Pegawai Tak Diperpanjang, BPKAD Kampar Tuntaskan Verifikasi Gaji PPPK Paruh Waktu SeninDukung Pengembangan Wisata Buluh Cina, Edi Basri Tekankan Pelestarian Budaya dan Mitigasi Banjir

50 Warga Positif Corona OTG Jalani Isolasi Mandiri.

50 Warga Positif Corona OTG Jalani Isolasi Mandiri.

Juru Bicara Bidang Kesehatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Pekanbaru, dr Mulyadi mengatakan, terdapat sebanyak 50 warga positif corona yang kini menjalani isolasi secara mandiri di rumah tempat tinggal.

Puluhan warga positif OTG ini harus diisolasi mandiri lantaran biaya isolasi dan perawatan medis di rumah sakit tidak ditanggung pemerintah. Sejauh ini, pemerintah hanya membiayai pasien positif yang mengalami gejala Covid-19.

Nantinya, sebut Mulyadi, warga positif OTG tersebut akan diisolasi oleh Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru di Rumah Sehat yang dipersiapkan di Rumah Susun Sederhana dan Sewa (Rusunawa) Rejosari di Tenayan Raya.

"Sekarang tempatnya masih dipersiapkan," ujarnya, Selasa (11/8).

Jelang Rumah Sehat dioperasikan, bagi warga positif OTG yang memang tidak memiliki tempat yang cukup atau ruangan khusus di rumah tempat tinggal, mereka tetap bisa mengajukan isolasi dan perawatan medis di rumah sakit milik pemerintah.

"Jadi kalau ada masyarakat, rumahnya memiliki resiko tinggi menularkan kepada keluarga dan masyarakat lain, bisa dilakukan isolasi di rumah sakit pemerintah. Rumah Sakit Madani juga bisa," ucapnya.

"Itu kalau tidak memungkinkan (diisolasi di rumah). Karena ada faktor rumahnya sempit, atau faktor sosial, ada tekanan dari masyarakat yang takut tertular, jadi bisa diisolasi di rumah sakit pemerintah. Biayanya tidak ada," ulasnya.

Namun bagi warga positif yang memilih diisolasi di rumah tempat tinggal, mereka secara berkala diawasi oleh tenaga kesehatan di masing-masing pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) setempat.

"Yang mengawasi dari puskesmas. Ada pemeriksaan secara berkala. Seperti kemarin di Rumbai, itu dokter yang ke tempat pasiennya. Kalau bergejala, langsung kita isolasi di rumah sakit," tutupnya.

Sumber: kmf