TERKINI
Plt Kepala Disdikpora Kampar, Helmi Hadiri Peluncuran Buku Karya Wabup Kampar, MishartiRayakan Usia ke-56 dengan Karya, Wabup Kampar, Misharti Luncurkan Buku Berjudul Tenun AkarPenandatanganan Kerja Sama Pemkab dan Kejari, Perkuat Kepastian Hukum dan Tata Kelola PemerintahanWakili Wabup Kampar, Plt Kadisdikpora Letakkan Batu Pertama Pembangunan Asrama Ponpes Ibnu JarirWabup Kampar Bahas Rencana Jaringan Listrik Pasir Sialang, Pemerataan Penerangan Jadi PrioritasWakil Bupati Misharti Bidik Pasar Nasional, Olahan Ikan Patin dan Batik Kampar Didorong Naik KelasOperasi Patuh Lancang Kuning 2026, Satlantas Polres Kampar dan Samsat Bangkinang Gelar Ramp CheckDisdikpora Kampar Respons Kondisi Sekolah di Koto Kampar Hulu, Renovasi Dianggarkan 2027DPRD dan Pemkab Kampar Setujui 6 Ranperda, Ahmad Yuzar Tekankan Manfaat Nyata bagi MasyarakatDelapan Fraksi DPRD Kampar Sampaikan Pandangan, RAPBD 2027 Fokus Kebutuhan MasyarakatBupati Kampar Didampinggi Plt Disdikpora Temui Plt Gubernur Riau, Usulkan Pembangunan Lokal SD 017Perkuat Layanan Darurat, Bupati Kampar Serahkan Mobil Rescue untuk Damkar

Plt Kepala Disdikpora Kampar, Helmi Hadiri Peluncuran Buku Karya Wabup Kampar, Misharti

Plt Kepala Disdikpora Kampar, Helmi Hadiri Peluncuran Buku Karya Wabup Kampar, Misharti

KAMPAR - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga, Helmi menghadiri acara peluncuran buku terbarunya Wakil Bupati Kampar, Misharti yang berjudul “Tenun Akar" dan peresmian Miranda Convention Center (MCC) Sekaligus Masjid yang bertepatan pada hari ulang tahunnya ke-56 digelar di Pekanbaru, Minggu malam (1/11/2026).

Ia menilai buku Tenun Akar karya Dr. Hj. Misharti menawarkan pemikiran yang relevan bagi pengelola pendidikan.

Selain bicara tentang perempuan dan keluarga, menurutnya buku tersebut juga mengajak pembaca menghubungkan pembangunan sarana dan pelaksanaan program dengan manfaat yang dapat dirasakan anak dan keluarga.

Helmi menuturkan, keberhasilan penyelenggaraan pendidikan perlu ditelusuri hingga pengalaman anak ketika belajar, membutuhkan bantuan, dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah.

“Ruang kelas yang baik perlu disertai proses belajar yang baik, lingkungan yang aman, dan pelayanan yang jelas. Sarana yang tersedia harus bekerja untuk kebutuhan anak. Dari situ kita dapat menilai manfaat pembangunan dan program pendidikan,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).

Ia mengemukakann, pandangan tersebut berkaitan dengan pembahasan dalam salah satu bab di buku Tenun Akar. Pada bagian itu, Dr. Misharti membedakan kegiatan yang selesai dilaksanakan dengan perubahan yang kemudian dialami masyarakat.

"Buku karya Wakil Bupati Kampar itu memberikan contoh tentang sekolah yang memiliki gedung yang baik. Orang tua tetap perlu melihat apakah anak memperoleh perlindungan dari perundungan dan mendapat bantuan ketika mengalami kesulitan belajar. Sarana, tenaga, serta tata kelola perlu mendukung tujuan yang sama," bebernya. 

Ia menyampaikan, gagasan tersebut menjadi pengingat agar pengelolaan pendidikan memperhatikan tindak lanjut dari setiap pekerjaan yang dilaksanakan.

Ketika guru mengikuti pelatihan, tindak lanjutnya perlu terlihat dalam cara pembelajaran berlangsung. 

"Ketika sarana diperbaiki, pemanfaatannya perlu ditinjau. Dengan begitu, kita mengetahui bagian yang sudah membantu anak dan bagian yang masih perlu dibenahi,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti gagasan penulis tentang lembaga yang ikut mendidik melalui kebiasaan kerjanya. 

Dalam pembahasan tersebut, respons sekolah terhadap laporan anak menjadi salah satu contoh bagaimana keadilan dan perlindungan dipelajari melalui pengalaman.

Sekolah yang menerima laporan dengan baik membantu anak memahami bahwa kebutuhan meminta bantuan merupakan tindakan yang terkadang patut dilakukan. Penjelasan yang mudah dipahami serta tindak lanjut yang jelas juga menjadi bagian dari hubungan yang sehat antara sekolah dan keluarga.

“Anak yang mendapat tanggapan ketika menyampaikan persoalannya akan belajar bahwa suaranya dihargai. Orang tua yang memperoleh penjelasan dengan baik akan melihat bahwa sekolah bersedia bekerja bersama mereka. Cara lembaga memperlakukan orang ikut mengajarkan nilai kebaikan,” ujar Helmi.

Dalam pandangannya, perhatian terhadap pengalaman anak dan keluarga perlu hadir dalam penilaian mutu layanan pendidikan. Data kegiatan, kondisi sarana, dan laporan pelaksanaan program dapat dipertemukan dengan masukan dari pihak yang menggunakan layanan tersebut.

Tenun Akar juga membahas hambatan yang membuat pelayanan sulit dijangkau. Hambatan itu mencakup jarak, ongkos perjalanan, waktu, bahasa yang sulit dipahami, prosedur yang rumit, serta kebutuhan akses bagi penyandang disabilitas.

Helmi memandang pembahasan tersebut relevan untuk menilai kemudahan keluarga memperoleh layanan pendidikan. Orang tua perlu mengetahui persyaratan yang harus dipenuhi, tempat mendapatkan penjelasan, serta jalur untuk menyampaikan persoalan. Perbedaan keadaan keluarga perlu dipahami agar layanan dapat menjangkau mereka secara adil.

Menurutnya, kekuatan buku ini terletak pada cara Dr. Misharti menghubungkan kehidupan keluarga dengan tanggung jawab lembaga publik. Keluarga membutuhkan dukungan yang sesuai dengan persoalannya, sementara pemerintah dan sekolah perlu memahami pengalaman masyarakat agar pelayanan dapat terus diperbaiki.

“Buku ini penting sebagai bahan refleksi bagi orang yang diberi kewenangan. Kita diajak menilai pekerjaan dari kemudahan, rasa aman, dan keadilan yang diterima masyarakat. Dalam pendidikan, manfaatnya perlu terlihat pada kesempatan anak untuk belajar dan tumbuh dengan baik,” pungkasnya.