KAMPAR – Anggota DPRD Provinsi Riau dari daerah pemilihan Kabupaten Kampar, Edi Basri, mendorong agar event Pacu Sampan Tradisional di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, dikelola secara lebih profesional dan berkelanjutan.
Menurutnya, kegiatan budaya tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata unggulan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Edi Basri saat menghadiri kegiatan Pacu Sampan Buluhcina (PSB) Tradisional di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Jumat (23/10/2026).
Edi menilai, penyelenggaraan Pacu Sampan yang telah berlangsung selama empat tahun berturut-turut merupakan modal penting untuk meningkatkan kualitas kegiatan.
Namun, konsistensi pelaksanaan harus diiringi evaluasi agar event tersebut terus berkembang dan tidak berjalan monoton.
“Ke depan, kegiatan ini harus dikelola lebih baik lagi. Setiap tahun perlu dilakukan evaluasi, baik dari sisi penyelenggaraan, fasilitas, maupun daya tarik perlombaannya. Hadiah juga perlu ditingkatkan agar semakin banyak peserta yang tertarik untuk ikut berkompetisi,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan kualitas penyelenggaraan harus berjalan seiring dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Edi, kegiatan Pacu Sampan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan dan kuliner tradisional khas Desa Buluh Cina kepada para pengunjung.
Ia mendorong panitia dan pemerintah desa menyediakan ruang khusus bagi pelaku UMKM untuk memasarkan makanan tradisional, kue khas daerah, serta produk lokal lainnya. Dengan demikian, kehadiran peserta dan wisatawan tidak hanya memeriahkan perlombaan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Sebagai wakil rakyat dari Kabupaten Kampar, Edi Basri menyatakan dukungannya terhadap upaya peningkatan status Pacu Sampan Buluh Cina agar mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah daerah.
Ia menilai, apabila event tersebut telah menjadi agenda budaya dan pariwisata daerah, dukungan pemerintah juga perlu diwujudkan melalui program yang berkelanjutan, termasuk pemeliharaan fasilitas, promosi, serta dukungan anggaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, komitmen menjadikan Buluh Cina sebagai desa wisata harus disertai kebijakan nyata. Fasilitas pendukung kegiatan, termasuk sarana di kawasan arena Pacu Sampan, perlu dirawat secara rutin agar tetap aman dan layak digunakan.
“Kalau kita sudah menetapkan suatu kawasan sebagai desa wisata, maka fasilitas dan simbol-simbol wisatanya harus dijaga. Jangan sampai dibangun, tetapi kemudian dibiarkan rusak karena tidak ada pemeliharaan. Harus ada komitmen dan anggaran yang berkelanjutan,” tegasnya.
Edi juga membuka peluang untuk mendorong dukungan dari berbagai pihak agar Pacu Sampan Buluh Cina dapat berkembang lebih luas, termasuk melalui kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pemangku kepentingan lainnya.
Ia berharap pengembangan event tersebut tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan perlombaan tahunan, tetapi juga mampu membangun ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Selain menyoroti pengembangan pariwisata, Edi Basri turut mengingatkan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi geografis Desa Buluh Cina yang dinilai rentan terhadap ancaman banjir.
Ia menyebutkan bahwa kondisi wilayah yang berada di sekitar sungai dan kawasan perairan membutuhkan perencanaan pembangunan jangka panjang, terutama untuk melindungi keselamatan masyarakat ketika terjadi banjir besar.
Menurutnya, pemerintah perlu mengkaji langkah-langkah mitigasi bencana secara menyeluruh, termasuk kemungkinan penyediaan lokasi alternatif atau kawasan relokasi bagi masyarakat yang berada di wilayah berisiko tinggi.
“Pemerintah harus memikirkan konsep jangka panjang untuk masyarakat Buluh Cina. Jika suatu saat terjadi banjir besar, masyarakat harus memiliki alternatif tempat tinggal yang aman. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa rencana relokasi, apabila diperlukan, harus didasarkan pada kajian risiko bencana, pemetaan wilayah rawan, serta dialog dengan masyarakat. Penyediaan lokasi alternatif juga perlu mempertimbangkan kelayakan hunian, akses terhadap mata pencaharian, fasilitas umum, dan keberlanjutan kehidupan sosial warga.
Edi berharap pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat dapat bersinergi dalam merumuskan solusi yang tepat untuk mengantisipasi risiko banjir di kawasan tersebut.
Menurutnya, pembangunan pariwisata dan pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan perlindungan masyarakat serta penataan kawasan yang aman.
Edi Basri menegaskan bahwa Pacu Sampan Buluh Cina memiliki potensi besar untuk menjadi kebanggaan Kabupaten Kampar apabila dikelola secara konsisten dan mendapat dukungan yang memadai.
Melalui peningkatan kualitas event, penguatan UMKM, pemeliharaan fasilitas wisata, serta perencanaan mitigasi bencana, ia berharap Desa Buluh Cina dapat berkembang sebagai destinasi wisata yang menarik sekaligus memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Ia juga mendorong seluruh pihak untuk terus menjaga tradisi Pacu Sampan sebagai warisan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah dan identitas bagi masyarakat Kampar.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, Pacu Sampan Buluh Cina diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan desa yang berkelanjutan, berdaya saing, dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat.




