TERKINI
Pemadaman Titik Api di Lahan Desa Rimbo Panjang, Bupati Didampingi Wabup Turun LangsungPekan Ceria Didikan Subuh, Tingkatkan Semangat dan Kreativitas Anak di Desa Renak DungunPuncak HUT RI ke-81 di RW 03 Keramat Sakti Berlangsung Meriah, Dihadiri Anggota DPR RI, Syahrul AidiMerah Putih Berkibar di Senja Hari, Penurunan Bendera HUT ke-81 RI di Rokan Hulu Berjalan SuksesKhidmat dan Megah, Pemkab Rokan Hulu Gelar Upacara Puncak Peringatan HUT RI ke-81Upacara Bendera Peringatan HUT RI Ke-81 Tahun 2026 Dipimpin Bupati Kampar, YuzarDesa Pulau Sarak Meriahkan Hari Kemerdekaan Dengan Pawai dan Santunan Anak Yatim Serta Makan BersamaFestival Anak Sholeh Digelar Mahasiswa KKN IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Dorong Generasi IslamiSengit dan Meriahkan HUT RI Ke-81, RW 002 Sabet Gelar Juara Turnamen Voli Putri Desa Bukit RanahRakornas Forkopimda di Batam, Dihadiri Bupati Bengkalis, Perkuat Sinergi PemerintahMeriahkan HUT RI, Kades Bukit Ranah, Firdaus Serahkan Bantuan 2 Bola Voli, Udo Ucapkan TerimakasihWarga Bukit Singkumbang Gelar Berbagai Perlombaan Sambut Hari Kemerdekaan RI

Di Huta Haiti, Mandai Ulu Taon Menjadi Penjaga Ingatan Adat dan Persaudaraan Lima Luhak

Di Huta Haiti, Mandai Ulu Taon Menjadi Penjaga Ingatan Adat dan Persaudaraan Lima Luhak

Pasir Pengaraian — Aroma masakan tradisional, lantunan petuah adat, dan hangatnya kebersamaan menyatu di Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Rabu (20/05/2026). Di tengah suasana kampung adat yang masih terjaga, masyarakat Napituhuta Luhak Rambah kembali melaksanakan tradisi Mandai Ulu Taon, sebuah warisan budaya turun-temurun yang bukan sekadar makan bersama, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan dan menjaga ingatan sejarah leluhur.

Sejak pagi, masyarakat adat tampak mempersiapkan berbagai hidangan khas untuk disantap bersama. Para tokoh adat, pucuk suku, hingga masyarakat dari berbagai wilayah berkumpul dalam nuansa penuh kekeluargaan. Tradisi ini telah lama menjadi penanda rasa syukur masyarakat setelah musim panen padi sekaligus mengenang sejarah Boru Namora Suri Andung Jati yang dihormati dalam perjalanan adat masyarakat Napituhuta.

Kehadiran Yang Dipertuan Besar Raja Luhak Rambah XI, dr. Haji Tengku Afrizal Dachlan, M.M., bersama para Raja Luhak se-Rokan Hulu menambah khidmat suasana kegiatan adat tersebut. Turut hadir pula PJ Sekretaris Daerah Rokan Hulu Drs. H. Yusmar, M.Si bergelar Sutan Sulembang Rokan, unsur Forkopimda, tokoh adat Melayu, hingga para datuk dan pucuk suku di Luhak Rambah.

Bagi masyarakat setempat, Mandai Ulu Taon bukan hanya tradisi seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa adat masih hidup dan terus diwariskan di tengah perkembangan zaman. Di bawah tenda sederhana dan iringan seni budaya khas Rokan Hulu, masyarakat duduk bersama tanpa sekat, menikmati hidangan sambil mendengarkan petuah adat yang sarat makna kehidupan.

Raja Luhak Rambah XI dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat Napituhuta yang tetap menjaga tradisi leluhur dengan penuh semangat. Menurutnya, semakin aktifnya kegiatan adat di Rokan Hulu menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian besar terhadap identitas budaya daerah.

Ia juga menilai dukungan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu terhadap adat dan budaya semakin terasa, terutama dengan kembali berdirinya lima Raja Luhak di Rokan Hulu sebagai simbol pemersatu adat di Negeri Seribu Suluk.

Sementara itu, PJ Sekda Rokan Hulu Drs. H. Yusmar, M.Si menyebut tradisi Mandai Ulu Taon memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya daerah. Menurutnya, pelestarian adat dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM dan sektor pariwisata berbasis budaya.

Menjelang akhir kegiatan, penampilan seni dan tari tradisional dari masing-masing luhak menambah semarak suasana. Panji-panji kebesaran adat lima Luhak berkibar berdampingan, menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Rokan Hulu terhadap warisan leluhur mereka.

Di Huta Haiti hari itu, Mandai Ulu Taon bukan hanya tentang tradisi makan bersama. Ia menjadi ruang tempat adat, sejarah, dan persaudaraan kembali dipertemukan, mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya tetap menjadi penyangga kehidupan masyarakat Negeri Seribu Suluk.[Hnf]