TERKINI
Syawal Nahkodai PWI Kampar 2026-2029, Wabup Misharti Tegaskan Pers Mitra Strategis PembangunanKonferensi VIII PWI Kampar, Wabup Misharti Ajak Wartawan Jaga Marwah Pers dan Perkuat PersatuanAde Syaputra Ajak Warga Kampar Manfaatkan Pemutihan Pajak, Samsat Bangkinang Bagikan MaskerGerak Cepat, Wabup Kampar, Misharti Tinjau Turap Longsor di Penyesawan, Penanganan Segera DikajiKualitas Udara Masih Tidak Sehat, Pemko Pekanbaru Berlakukan PJJ 14-15 Oktober 2026Samsat Bangkinang Imbau Warga Kampar Manfaatkan Insentif Pajak, Tunggakan Dihapus hingga 40 PersenWabup Kampar, Misharti Tegaskan Kesiapan Lahan Program Sekolah Rakyat, Administrasi Pemkab RampungWabup Kampar, Misharti Perkuat Sinergi BGN dan Satgas MBG, 13 Dapur SPPG di Kampar Siap BeroperasiSosialisasi Pemda dan BGN Kawal MBG, Mitra Yayasan Indra Noval Sampaikan Apresiasi Pada Wabup KamparKetua Satgas MBG Dijabat Wabup Kampar, Misharti Pimpin Sosialisasi MBG, Imbau Patuhi SOP dan AturanSinergi Pemerintah dan Adat, Bupati Kampar Minta LAK Optimalkan Pembinaan Anak KemenakanWakil Bupati Kampar, Misharti Lantik Pengurus SOIna dan Lepas Kontingen Atlet Menuju PeSONas II 2026

Di Huta Haiti, Mandai Ulu Taon Menjadi Penjaga Ingatan Adat dan Persaudaraan Lima Luhak

Di Huta Haiti, Mandai Ulu Taon Menjadi Penjaga Ingatan Adat dan Persaudaraan Lima Luhak

Pasir Pengaraian — Aroma masakan tradisional, lantunan petuah adat, dan hangatnya kebersamaan menyatu di Huta Haiti, Desa Rambah Tengah Barat, Kecamatan Rambah, Rabu (20/05/2026). Di tengah suasana kampung adat yang masih terjaga, masyarakat Napituhuta Luhak Rambah kembali melaksanakan tradisi Mandai Ulu Taon, sebuah warisan budaya turun-temurun yang bukan sekadar makan bersama, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan dan menjaga ingatan sejarah leluhur.

Sejak pagi, masyarakat adat tampak mempersiapkan berbagai hidangan khas untuk disantap bersama. Para tokoh adat, pucuk suku, hingga masyarakat dari berbagai wilayah berkumpul dalam nuansa penuh kekeluargaan. Tradisi ini telah lama menjadi penanda rasa syukur masyarakat setelah musim panen padi sekaligus mengenang sejarah Boru Namora Suri Andung Jati yang dihormati dalam perjalanan adat masyarakat Napituhuta.

Kehadiran Yang Dipertuan Besar Raja Luhak Rambah XI, dr. Haji Tengku Afrizal Dachlan, M.M., bersama para Raja Luhak se-Rokan Hulu menambah khidmat suasana kegiatan adat tersebut. Turut hadir pula PJ Sekretaris Daerah Rokan Hulu Drs. H. Yusmar, M.Si bergelar Sutan Sulembang Rokan, unsur Forkopimda, tokoh adat Melayu, hingga para datuk dan pucuk suku di Luhak Rambah.

Bagi masyarakat setempat, Mandai Ulu Taon bukan hanya tradisi seremonial tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa adat masih hidup dan terus diwariskan di tengah perkembangan zaman. Di bawah tenda sederhana dan iringan seni budaya khas Rokan Hulu, masyarakat duduk bersama tanpa sekat, menikmati hidangan sambil mendengarkan petuah adat yang sarat makna kehidupan.

Raja Luhak Rambah XI dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat Napituhuta yang tetap menjaga tradisi leluhur dengan penuh semangat. Menurutnya, semakin aktifnya kegiatan adat di Rokan Hulu menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian besar terhadap identitas budaya daerah.

Ia juga menilai dukungan Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu terhadap adat dan budaya semakin terasa, terutama dengan kembali berdirinya lima Raja Luhak di Rokan Hulu sebagai simbol pemersatu adat di Negeri Seribu Suluk.

Sementara itu, PJ Sekda Rokan Hulu Drs. H. Yusmar, M.Si menyebut tradisi Mandai Ulu Taon memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya daerah. Menurutnya, pelestarian adat dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM dan sektor pariwisata berbasis budaya.

Menjelang akhir kegiatan, penampilan seni dan tari tradisional dari masing-masing luhak menambah semarak suasana. Panji-panji kebesaran adat lima Luhak berkibar berdampingan, menjadi simbol persatuan dan kebanggaan masyarakat Rokan Hulu terhadap warisan leluhur mereka.

Di Huta Haiti hari itu, Mandai Ulu Taon bukan hanya tentang tradisi makan bersama. Ia menjadi ruang tempat adat, sejarah, dan persaudaraan kembali dipertemukan, mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya tetap menjadi penyangga kehidupan masyarakat Negeri Seribu Suluk.[Hnf]