https://www.lenteranews.co

Pastikan Penyebab Kematian Ternak Sapi Warga, Disbunnak Keswan Kampar Turunkan Tim

Pastikan Penyebab Kematian Ternak Sapi Warga, Disbunnak Keswan Kampar Turunkan Tim

KAMPAR – Menyikapi kabar matinya ternak di Desa Kualu, Kecamatan Tambang, Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kabupaten Kampar hari ini langsung menurunkan petugas ke lapangan guna memastikan penyebab kematian sekaligus memperkuat langkah pencegahan penyakit di kalangan peternak.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kampar, Marahalim, S.Pt., melalui Plt Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Azto, S.Pt., mengatakan sebanyak lima orang petugas telah diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap ternak di lokasi.

“Kami turun untuk memastikan apakah benar ada ternak yang mati dan apa penyebabnya. Tim melakukan pengecekan kondisi ternak, lingkungan kandang, serta menggali informasi dari peternak setempat,” ujar Azto di ruang kerjanya, Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan, secara kasat mata jenis penyakit pada ternak memang sulit diidentifikasi. Penyakit bisa bermacam-macam, mulai dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Septicaemia Epizootica (SE), hingga penyakit lainnya. Untuk memastikan diagnosis, dibutuhkan pemeriksaan oleh dokter hewan berpengalaman dan, jika diperlukan, uji laboratorium.

“Kadang gejalanya mirip. Tidak bisa langsung disimpulkan apakah itu PMK atau penyakit lain. Biasanya dokter hewan yang berpengalaman bisa menduga, dan untuk memastikan bisa dilakukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium,” jelasnya.

Azto menegaskan bahwa kesehatan ternak sangat dipengaruhi oleh pemenuhan gizi dan pola pemberian pakan. Menurutnya, masih ada ternak yang hanya diberi pakan sekadar untuk bertahan hidup, bukan untuk menunjang produksi dan menjaga daya tahan tubuh.

“Kalau makanannya cukup, tidak hanya untuk hidup pokok tapi juga untuk produksi dan menjaga kesehatan, ternak akan lebih kuat. Idealnya pakan diberikan minimal lebih dari 10 persen dari berat badan dengan kandungan gizi yang memadai,” terangnya.

Selain pakan, faktor lingkungan juga berperan besar. Kandang yang lembap, kotor, dan tidak terjaga kebersihannya dapat mempercepat penyebaran penyakit.

“Kalau makannya tidak cukup dan lingkungan tidak mendukung, ternak mudah sakit. Bahkan bisa mati. Jadi selain pakan berkualitas, kebersihan lingkungan juga wajib dijaga,” tambahnya.

Dalam upaya pencegahan, Disbunnak Keswan Kampar terus melaksanakan vaksinasi, khususnya vaksin PMK. Program vaksinasi tahun ini merupakan kegiatan pemerintah provinsi dan saat ini sedang berjalan.

“Kami sudah sering melaksanakan vaksinasi, terutama PMK. Tahun ini juga ada kegiatan vaksinasi dari provinsi dan sedang berjalan. Kami harap peternak mau memanfaatkan kesempatan ini,” katanya.

Ia juga mengimbau peternak agar segera melapor jika menemukan ternaknya sakit. Laporan dapat disampaikan kepada petugas lapangan, Puskeswan, maupun melalui perangkat desa setempat.

“Kalau tidak dilaporkan, kami tidak tahu ada ternak yang sakit. Begitu ada laporan, petugas pasti datang. Jangan menunggu sampai kondisinya parah atau terjadi kematian,” tegasnya.

Azto mengakui, pihaknya sebelumnya belum menerima laporan resmi terkait kasus di Kualu. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran peternak untuk proaktif berkoordinasi dengan petugas kesehatan hewan.

Ia menambahkan, kasus penyakit ternak bersifat fluktuatif. Pada tahun 2021 kasus PMK sempat tinggi, kemudian menurun pada tahun-tahun berikutnya, meski masih ditemukan kasus sporadis. Penyebaran penyakit dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lalu lintas ternak antar daerah serta kebersihan alat angkut.

“Penyakit bisa datang dari mana saja, termasuk dari pergerakan ternak keluar masuk daerah. Karena itu pengawasan, vaksinasi, pakan berkualitas, dan kebersihan kandang menjadi kunci utama,” pungkasnya.

Komentar Via Facebook :