TERKINI
Penanganan Karhutla di Kampar Dilaporkan Kondisi Nol Hotspot Titik Panas Berkat KerjasamaDPC GMNI Bongkar Penyebab Tunda Bayar Bengkalis: Utang Rp923,9 Miliar Bebani APBD 2024-2026Pemadaman Titik Api di Lahan Desa Rimbo Panjang, Bupati Didampingi Wabup Turun LangsungPekan Ceria Didikan Subuh, Tingkatkan Semangat dan Kreativitas Anak di Desa Renak DungunPuncak HUT RI ke-81 di RW 03 Keramat Sakti Berlangsung Meriah, Dihadiri Anggota DPR RI, Syahrul AidiMerah Putih Berkibar di Senja Hari, Penurunan Bendera HUT ke-81 RI di Rokan Hulu Berjalan SuksesKhidmat dan Megah, Pemkab Rokan Hulu Gelar Upacara Puncak Peringatan HUT RI ke-81Upacara Bendera Peringatan HUT RI Ke-81 Tahun 2026 Dipimpin Bupati Kampar, YuzarDesa Pulau Sarak Meriahkan Hari Kemerdekaan Dengan Pawai dan Santunan Anak Yatim Serta Makan BersamaFestival Anak Sholeh Digelar Mahasiswa KKN IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Dorong Generasi IslamiSengit dan Meriahkan HUT RI Ke-81, RW 002 Sabet Gelar Juara Turnamen Voli Putri Desa Bukit RanahRakornas Forkopimda di Batam, Dihadiri Bupati Bengkalis, Perkuat Sinergi Pemerintah

Disbunakkeswan Kampar Lakukan Kajian dan Telusuri Penyebab Flu Burung

Disbunakkeswan Kampar Lakukan Kajian dan Telusuri Penyebab Flu Burung
Ilustrasi (net)

KAMPAR - Ayam buras mati massal di Desa Laboi Jaya Kecamatan Bangkinang positif  Flu Burung. Ada ratusan ayam yang mati.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) Kampar, Ali Sabri melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh Deyus Herman mengaku telah menerima informasi tentang hasil uji laboratorium Balai Veteriner (BVet) Bukittinggi.

"Iya. Benar positif  Flu Burung," kata Deyus, Senin (3/4/2023). Ia mengatakan, informasi tersebut telah pula diteruskan ke Petugas Lapangan Kesehatan Hewan.

Petugas diminta meneruskannya kepada masyarakat. Terutama masyarakat peternak yang ayamnya mati.

Ia menjelaskan, kematian massal itu terjadi pada Februari 2023 lalu. Hampir bersamaan dengan ayam mati massal di Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar.

Ada ratusan ekor ayam buras di Laboi Jaya yang mati massal. Tetapi tidak sekaligus. Gelombang mati massal itu terjadi sekitar satu pekan.

"Nggak sekaligus gitu. Sehari itu jumlahnya nggak menentu. Tapi ada ratusan," katanya. Ayam ternak tersebut milik masyarakat yang dipelihara di kandang kecil dan pekarangan rumah.

Di desa itu terdapat kandang besar usaha ternak ayam buras milik Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Peternakan Kampar. Tetapi aman dari mati massal.

Pihaknya masih melakukan kajian epidemologi penyebaran Flu Burung tersebut.

Gunanya untuk memastikan asal penyebaran virus Avian Influenza (H5N1) tersebut.

Deyus tidak begitu yakin jika kasus di Laboi Jaya merupakan gelombang dari Koto Mesjid. Ia lebih sependapat jika kasus mati massal karena faktor cuaca ekstrem.

Menurut dia, tahun sebelumnya juga terdapat kasus kematian ayam ternak.

Tetapi jumlahnya sedikit dan asumsi tidak sampai mengarah ke  Flu Burung.

"Makanya, sepertinya karena faktor cuaca. Ini lagi kita lakukan kajian epidemologinya. Kita telusuri asal penyebarannya," pungkas Deyus.***